Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Karantina Indonesia meresmikan Instalasi Karantina Terpadu di kawasan Puspa Agro, Sidoarjo. Fasilitas ini menjadi karantina terpadu pertama di Indonesia dan menjadi bagian dari pengembangan kawasan JATIM HUB atau Nusantara Integrated Trade & Quarantine Gateway.
Peresmian tersebut menandai penguatan sistem logistik dan perdagangan Jawa Timur yang kini mengintegrasikan layanan karantina, distribusi barang, hingga aktivitas ekspor-impor dalam satu kawasan terpadu.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa keberadaan JATIM HUB merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Jawa Timur sebagai pusat logistik nasional dan gerbang perdagangan Indonesia bagian timur.
“Dengan adanya gerbang terintegrasi ini, proses logistik dan karantina tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu sistem yang modern dan efektif,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, sistem terpadu ini diharapkan mampu memangkas waktu distribusi barang sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini menjadi kendala pelaku usaha.
Fasilitas tersebut menggabungkan layanan pemeriksaan, pengasingan, tindakan karantina, hingga laboratorium dalam satu kawasan. Sistemnya juga diperkuat dengan joint inspection bersama Bea Cukai agar arus barang ekspor-impor menjadi lebih cepat dan efisien.
Kawasan JATIM HUB yang berada di Jemundo, Sidoarjo, dibangun di atas lahan seluas 50 hektare dan dilengkapi berbagai fasilitas seperti gudang, cold storage, tempat penimbunan sementara, laboratorium, serta pusat distribusi terpadu.
Khofifah menyebut penguatan sistem ini sejalan dengan visi “Gerbang Baru Nusantara” yang menempatkan Jawa Timur sebagai penghubung utama perdagangan Indonesia Barat dan Timur.
Menurutnya, posisi strategis Jawa Timur didukung oleh infrastruktur besar, mulai dari bandara, pelabuhan, jalan tol, kawasan ekonomi khusus, hingga kawasan industri yang tersebar di berbagai wilayah.
Ia juga menyoroti peran Pelabuhan Tanjung Perak yang menjadi salah satu simpul utama distribusi logistik nasional, termasuk dominasi arus barang ke wilayah Indonesia Timur.
Tak hanya untuk industri besar, JATIM HUB juga disiapkan sebagai pintu ekspor bagi produk koperasi, UKM, dan industri kecil menengah.
“Kita ingin produk-produk daerah, termasuk produk koperasi, UKM, dan IKM, tidak hanya beredar di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di pasar global,” tuturnya.
Pemprov Jatim juga menyiapkan penguatan pembinaan agar produk lokal dapat memenuhi standar ekspor internasional.
Dari sisi ekonomi, keberadaan instalasi karantina terpadu ini diproyeksikan meningkatkan efisiensi logistik dan mempercepat proses bongkar muat, dengan potensi lalu lintas komoditas dan ekspor-impor yang sangat besar setiap tahunnya.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding menyampaikan apresiasi atas hadirnya fasilitas terpadu tersebut.
“Kami berterima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah yang telah menempatkan Balai Karantina di satu tempat sehingga barang yang diuji dan dikarantina bisa lebih mudah, efektif, efisien, tidak berbelit, dan mengurangi dwelling time,” tukasnya.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pelepasan ekspor sejumlah komoditas, di antaranya frozen yellowfin tuna hampir 20 ton ke Amerika Serikat serta pakan ternak ke Timor Leste.
Sumber: Memorandum.Disway.id
