DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA

JEJAK PANJANG SAWAH LAMONGAN, DARI PUSAT AGRARIS ERA AIRLANGGA HINGGA JALUR DAGANG MAJAPAHIT

informasi
Senin, 11 Mei 2026
8x dilihat
Foto: JEJAK PANJANG SAWAH LAMONGAN, DARI PUSAT AGRARIS ERA AIRLANGGA HINGGA JALUR DAGANG MAJAPAHIT

Kabupaten Lamongan selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional di Jawa Timur. Namun di balik luasnya hamparan persawahan yang kini memasuki musim tanam kedua, tersimpan sejarah panjang peradaban agraris yang telah berkembang sejak masa kerajaan kuno.

Tradisi pertanian di wilayah Lamongan disebut telah tumbuh sejak era Raja Airlangga dan terus berkembang hingga masa Kerajaan Majapahit. Jejak sejarah tersebut terekam dalam berbagai prasasti kuno yang ditemukan di kawasan Lamongan dan sekitarnya.

Pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, menyebut Lamongan sejak dahulu memang memiliki karakter kuat sebagai kawasan agraris. Hal tersebut terlihat dari sejumlah prasasti peninggalan masa Airlangga yang banyak menyinggung aktivitas pertanian hingga perdagangan hasil bumi.

"Di hampir semua prasasti masa Airlangga yang ditemukan di Lamongan seperti Prasasti Cane, Patakan, Baru, hingga Selorejo atau Bularuk, disebutkan soal perdagangan beras dan ternak," kata Supriyo saat berbincang dengan wartawan, Senin (11/5/2026).

"Itu menandakan kawasan ini sejak dahulu memang wilayah agraris yang sangat kuat," imbuhnya.

Ia menjelaskan, sejumlah prasasti memuat istilah adagāṅ bras yang berarti perdagangan beras. Istilah tersebut menunjukkan bahwa kawasan Lamongan pada masa itu telah memiliki hasil produksi pangan yang melimpah.

Menurut Supriyo, adanya aktivitas perdagangan beras menjadi tanda bahwa sistem pertanian di wilayah tersebut telah berkembang cukup maju sejak sekitar seribu tahun silam, termasuk dalam pengelolaan irigasi dan tata desa berbasis pertanian.

Selain sektor pertanian, kehidupan masyarakat Lamongan masa lampau juga ditopang aktivitas peternakan. Dalam sejumlah prasasti ditemukan istilah kbo yang merujuk pada kerbau dan wdus yang berarti kambing.

Supriyo menuturkan, hewan ternak memiliki peranan penting dalam sistem ekonomi masyarakat saat itu. Kerbau digunakan sebagai alat bantu membajak sawah, sedangkan sapi dan kambing menopang kebutuhan ekonomi keluarga.

"Jadi pertanian masa itu bukan berdiri sendiri. Sawah, peternakan, perdagangan, semuanya saling terhubung membentuk ekonomi desa yang stabil," jelasnya.

Memasuki era Majapahit, perkembangan agraris di Lamongan terus mengalami perubahan. Jika pada masa Airlangga wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi pangan, pada era Majapahit Lamongan mulai masuk dalam jaringan perdagangan komoditas bernilai tinggi.

Hal tersebut tercatat dalam Prasasti Biluluk II yang memuat berbagai komoditas perdagangan seperti sahaṅ atau merica, kapulaga, cabai Jawa, kemukus hingga kapas.

Komoditas rempah-rempah tersebut kala itu memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi bagian penting perdagangan Nusantara. Catatan tersebut menunjukkan masyarakat agraris di wilayah Lamongan tidak hanya bergantung pada hasil sawah, tetapi juga hasil perkebunan dan perdagangan.

Keberadaan kapas dalam prasasti juga diduga menandai berkembangnya aktivitas kerajinan tekstil di lingkungan masyarakat desa pada masa Majapahit.

"Prasasti Biluluk II menunjukkan ekonomi agraris Majapahit sudah sangat maju," ungkapnya.

"Tidak hanya padi, tetapi juga rempah-rempah dan hasil perkebunan ikut diperdagangkan. Itu menandakan wilayah Lamongan dan sekitarnya masuk dalam jalur ekonomi penting pada masa itu," lanjut Supriyo.

Ia menilai status Lamongan sebagai lumbung pangan nasional saat ini sejatinya merupakan kelanjutan dari tradisi agraris yang telah berlangsung sejak zaman kerajaan.

"Jadi apa yang kita lihat hari ini sebenarnya kelanjutan dari tradisi agraris lama," tambahnya.

Menurutnya, hamparan sawah di Lamongan bukan sekadar lahan pertanian modern, tetapi juga bagian dari warisan sejarah panjang peradaban Nusantara. Karena itu, sawah di Lamongan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan kebudayaan yang terus hidup dari masa ke masa.

Sumber: Tribun Jatim

https://jatim.tribunnews.com/jatim/544227/sejarah-panjang-sawah-lamongan-dari-kerbau-bajak-sawah-hingga-jadi-jalur-dagang-majapahit?page=2

Topik Terkait:

DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA KABUPATEN LAMONGAN

  • Jl. Jaksa Agung Suprapto, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur 62214
  • dinpmd@lamongankab.go.id
  • (0322) 321171
Logo Branding Lamongan
© 2026 Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Lamongan