Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut Jawa Timur saat ini telah memasuki fase kedaulatan pangan berkelanjutan. Hal tersebut dinilai sejalan dengan berbagai capaian sektor ekonomi dan pangan yang terus menunjukkan tren positif di provinsi tersebut.
Menurut Khofifah, saat pemerintah pusat fokus membangun ketahanan pangan nasional, Jawa Timur dinilai telah berada pada tahap yang lebih maju melalui penguatan sistem pangan berkelanjutan.
“Yang ingin kami sampaikan, ketika pemerintah pusat membangun ketahanan pangan, maka Insya Allah Jawa Timur ini sudah masuk pada kedaulatan pangan berkelanjutan,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan, dipilihnya Jawa Timur sebagai lokasi peluncuran Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Jawa tidak lepas dari capaian ekonomi daerah yang terus tumbuh positif.
Pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tercatat mencapai 5,96 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa sekaligus melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, Jawa Timur juga tercatat sebagai kontributor ekonomi terbesar kedua nasional dengan kontribusi 14,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan 25,16 persen terhadap perekonomian Pulau Jawa.
Di sisi pengendalian inflasi, Khofifah menjelaskan Pemprov Jawa Timur terus memperkuat berbagai program strategis, salah satunya melalui Etalase Pengendali Inflasi Kabupaten/Kota (EPIK) Mobile yang ditujukan untuk memperkuat kerja sama antarwilayah serta menjaga distribusi pangan agar lebih merata.
Ia juga menegaskan pembangunan pangan ke depan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan kalori, tetapi juga penguatan asupan protein hewani melalui pengembangan populasi sapi potong dan sapi perah.
Di sektor pertanian, penggunaan alat mesin pertanian modern seperti combine harvester juga terus didorong untuk mengurangi kehilangan hasil panen dan meningkatkan produktivitas.
"Sehingga kalau misalnya kehilangan hasil panen dapat ditekan ke angka sepuluh persen, kalau kita bisa memproduksi 34 juta ton Gabah Kering Panen (GKP), maka kita bisa menambah 3,4 juta ton tanpa harus melakukan ekstensifikasi atau intensifikasi lahan," kata Khofifah.
Sumber: ANTARA JATIM
