PEMKAB LAMONGAN PERLUAS PESERTA SOTH UNTUK PERCEPAT PENURUNAN STUNTING
berita
Kamis, 14 Mei 2026
6x dilihat
Pemerintah Kabupaten Lamongan memperluas jangkauan peserta Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dengan melibatkan tidak hanya ibu balita, tetapi juga nenek, bibi, hingga pengasuh anak sebagai upaya mempercepat penurunan stunting dan memperkuat ketahanan keluarga.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lamongan, dr. Aini Mas’idha, menyampaikan bahwa SOTH kini dibuka bagi seluruh pihak yang terlibat langsung dalam pengasuhan anak sehari-hari.
“Peserta SOTH tidak hanya ibu dari balita, tetapi juga kami buka untuk bibi, nenek, pengasuh atau siapa pun yang sehari-harinya mengasuh balita,” katanya di Lamongan, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa program ini terbukti mampu meningkatkan sikap positif, kesabaran, serta kepercayaan diri dalam pengasuhan anak, berdasarkan hasil penelitian Universitas Brawijaya terkait parental self-efficacy.
Menurutnya, SOTH juga menjadi bagian penting dalam pembangunan keluarga berkualitas sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting di Lamongan, yang pada 2025 berhasil menempati peringkat kedua terbaik di Jawa Timur.
Tercatat, sebanyak 285 peserta dari enam kecamatan dan 13 desa telah lulus dalam Wisuda SOTH Angkatan VII. Enam kecamatan tersebut meliputi Sukorame, Kedungpring, Deket, Sambeng, Lamongan, dan Karangbinangun.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menegaskan bahwa SOTH tidak hanya berfokus pada penanganan stunting, tetapi juga pada penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi ketahanan bangsa.
“SOTH ini tidak hanya ditujukan menyelesaikan persoalan stunting, tetapi bagaimana masyarakat Lamongan memiliki ketahanan keluarga yang baik untuk menciptakan generasi mendatang,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Pemkab Lamongan juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan sejumlah organisasi serta perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi dalam pembangunan keluarga dan perlindungan anak.
Pemerintah daerah menargetkan angka stunting terus menurun pada 2026 melalui penguatan intervensi spesifik dan sensitif, seiring tren penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Lamongan, prevalensi stunting turun dari 9,4 persen pada 2023 menjadi 6,9 persen pada 2024, kemudian 4,6 persen pada 2025, dan ditargetkan turun di bawah 4,06 persen pada 2026.
Selain itu, berbagai program pendampingan keluarga terus diperkuat, seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), SOTH, serta kolaborasi lintas sektor.