Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026, Dewan Pimpinan Cabang Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPC-Sarbumusi) Kabupaten Lamongan menggelar nonton bareng film Marsinah: Cry Justice. Kegiatan ini diikuti unsur Forkopimda, tokoh agama, aktivis, mahasiswa, hingga ratusan anggota serikat buruh.
Sebelum pemutaran film, peserta mengikuti doa bersama sebagai bentuk refleksi atas perjuangan buruh perempuan Marsinah yang kini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Doa juga dipanjatkan untuk kesejahteraan pekerja serta keberlangsungan industri di Lamongan.
Kegiatan dilanjutkan dengan malam refleksi bertema “Membangun Keadilan dan Solidaritas” yang digelar di halaman Kantor Disnakertrans Lamongan, Kamis (30/4/2026) malam.
Ketua DPC-Sarbumusi Lamongan, Nihrul Bahi Alhaidar, menyampaikan bahwa perjuangan buruh kini memasuki fase yang lebih matang melalui pendekatan reflektif dan advokasi strategis.
Ia menekankan pentingnya mengenang sosok Marsinah sebagai simbol perjuangan buruh.
"Malam ini kita menayangkan kembali kisah Marsinah agar para kader muda tidak lupa akan akar perjuangan. Marsinah bukan sekadar simbol perlawanan, tapi kini adalah pahlawan nasional yang mengukuhkan bahwa memperjuangkan hak pekerja adalah tugas mulia negara," ujarnya.
Gus Irul, sapaan akrabnya, juga menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat solidaritas dan nilai kemanusiaan dalam perjuangan buruh.
Sementara itu, Ketua PCNU Lamongan, Syahrul Munir, dalam orasinya menyoroti keterkaitan antara keadilan sosial dan ajaran agama. Ia mengaitkan penetapan Marsinah serta Abdurrahman Wahid sebagai pahlawan nasional sebagai simbol kebangkitan kelompok tertindas.
"Gus Dur pernah mengajarkan bahwa membela buruh, khususnya TKI, sama halnya dengan membela martabat bangsa ini. Sejahtera tanpa keadilan hanyalah 'lipstik' atau kepalsuan. Keadilan adalah fondasi utama," tegasnya.
Ia juga mengisahkan teladan Rasulullah SAW yang memuliakan pekerja sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras.
Pemutaran film berlangsung khidmat dan penuh emosi. Suasana hening menyelimuti ruangan, bahkan tangis pecah saat adegan akhir film ditayangkan. Momen ini menjadi refleksi mendalam atas perjuangan Marsinah pada 1993 dalam memperjuangkan hak-hak buruh.
Berbeda dari aksi turun ke jalan, peringatan May Day 2026 di Lamongan diisi dengan kegiatan reflektif. Para buruh dan aktivis memilih mengenang perjuangan melalui film, tanpa aksi demonstrasi, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai keadilan dan solidaritas.
Sumber: Memorandum.Disway.id
