Menjelang usia ke-457 tahun, sejarah Kabupaten Lamongan menghadirkan perspektif baru. Sebuah temuan prasasti kuno mengungkap bahwa nama Lamongan diduga telah dikenal jauh sebelum penetapan hari jadinya, yakni sejak abad ke-13.
Temuan tersebut menarik perhatian karena dinilai menjadi bukti historis berbasis dokumen resmi, bukan sekadar cerita tutur atau legenda yang berkembang di masyarakat.
Pemerhati sejarah Lamongan, Supriyo, menyebut Prasasti Sångå menjadi salah satu sumber penting untuk menelusuri jejak awal keberadaan Lamongan.
"Dalam prasasti itu ada penyebutan 'Ing Lāmoṅan' (dibaca Lamongan). Ini penting karena menunjukkan Lamongan sudah dikenal pada abad ke-13, bukan sekadar dalam cerita rakyat, tetapi dalam dokumen resmi," kata Supriyo.
Prasasti Sångå sendiri berbentuk dua lempeng perunggu dan kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Meski demikian, lokasi penemuan awal prasasti tersebut belum diketahui secara pasti.
Menurut Supriyo, kondisi seperti itu cukup lazim terjadi pada sejumlah peninggalan prasasti Jawa kuno yang dibawa ke luar negeri pada masa kolonial tanpa dokumentasi arkeologi yang lengkap.
"Memang tidak ada catatan pasti ditemukan di mana. Tapi secara konteks isi, prasasti ini kuat diduga berasal dari wilayah Jawa Timur, khususnya kawasan bekas Janggala di pesisir utara," ujarnya.
Ia menjelaskan kawasan tersebut meliputi wilayah yang saat ini mencakup Lamongan, Gresik, hingga Sidoarjo. Menariknya, penyebutan Lamongan dalam prasasti tidak hanya sebatas nama wilayah, melainkan juga menggambarkan adanya sistem administratif yang telah berjalan.
"Di dalamnya juga disebut istilah seperti 'juru samya'. Ini mengindikasikan adanya pejabat lokal atau pengelola wilayah. Artinya, sudah ada struktur sosial dan birokrasi yang berjalan saat itu," jelasnya.
Selain struktur pemerintahan, prasasti tersebut juga menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat melalui penyebutan hadiah berupa kain atau wdihan serta satuan nilai mata uang māṣa.
"Kalau sudah ada distribusi hadiah dan nilai mata uang, berarti sistem ekonominya juga sudah hidup. Ini memperkuat bahwa Lamongan saat itu bukan wilayah kosong," tambahnya.
Dalam isi prasasti juga terdapat istilah panugraha śrī jaṅgala yang diduga berkaitan dengan wilayah Janggala. Menurut Supriyo, hal tersebut menjadi petunjuk bahwa Lamongan kemungkinan berada dalam jaringan wilayah tersebut.
"Selama ini Janggala dianggap hilang setelah masa Airlangga. Tapi dari prasasti-prasasti, termasuk Mula-Malurung, terlihat bahwa Janggala masih ada, kemungkinan sebagai wilayah administratif di bawah kekuasaan yang lebih besar," terangnya.
Ia menilai sejarah tidak benar-benar hilang, melainkan dapat mengalami perubahan bentuk dari masa ke masa.
"Janggala itu bukan lenyap, tapi bertransformasi. Dan Lamongan kemungkinan menjadi bagian dari struktur itu," lanjutnya.
Supriyo juga mengaitkan temuan tersebut dengan masa awal Majapahit melalui Prasasti Balawi yang menyebut nama Śrī Harsawijaya.
"Di sini kita bisa melihat bahwa masa lalu sering digunakan untuk legitimasi kekuasaan. Raden Wijaya, misalnya, meneguhkan kebijakan lama untuk memperkuat posisinya," katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar temuan sejarah tersebut tidak disederhanakan menjadi sekadar kebanggaan tanpa kajian yang utuh.
"Sering kali langsung disimpulkan, 'Lamongan sudah ada sejak abad ke-13'. Itu tidak salah, tapi harus dipahami dengan konteks. Nama bisa sama, tapi struktur wilayah dan identitasnya bisa berbeda," tegasnya.
Menurutnya, sejarah perlu dipahami secara kritis agar tidak berubah menjadi sekadar alat klaim, melainkan menjadi sumber pengetahuan yang memberi manfaat lebih luas.
"Sejarah itu berlapis, tidak linier. Kalau tidak hati-hati, bisa berubah jadi alat klaim, bukan sumber pengetahuan. Ini peluang bagus untuk pendidikan publik, penguatan identitas daerah, bahkan diplomasi budaya. Tapi syaratnya satu, harus berbasis kajian, bukan sekadar kebanggaan," pungkasnya.
Sumber: Detik Jatim.com
https://www.detik.com/jatim/budaya/d-8476644/prasasti-dari-abad-ke-13-ungkap-jejak-awal-lamongan
