Khofifah Indar Parawansa meresmikan revitalisasi dan rehabilitasi 51 SMA, SMK, dan SLB di Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik dengan total anggaran Rp69,7 miliar, Rabu (4/3). Peresmian dipusatkan di SMAN 2 Lamongan sebagai simbol penguatan mutu pendidikan Jawa Timur melalui perbaikan sarana dan prasarana sekolah.
Peresmian ditandai penandatanganan prasasti yang selanjutnya dipasang di masing-masing satuan pendidikan penerima program. Khofifah menegaskan, prasasti itu bukan sekadar penanda proyek fisik, tetapi komitmen bersama untuk menjaga fasilitas pendidikan agar memberi dampak jangka panjang bagi kualitas pembelajaran.
“Kita ingin memastikan daya dukung lingkungan sekolah benar-benar disiapkan dan dijaga bersama. Monitoring dan kontrol kepala sekolah sangat penting agar fasilitas yang sudah dibangun ini dirawat dengan baik,” ujar Khofifah.
### Rincian Anggaran dan Sebaran Sekolah
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, total 51 satuan pendidikan menerima program revitalisasi dan rehabilitasi dengan nilai Rp69.704.570.000.
Di Kabupaten Lamongan, program menyasar 32 sekolah dengan total anggaran Rp42,29 miliar. Rinciannya, 19 SMA memperoleh Rp19,36 miliar, 13 SMK menerima Rp22,13 miliar, dan 1 SLB mendapatkan Rp796 juta.
Sementara di Kabupaten Gresik, sebanyak 19 sekolah direvitalisasi dengan total anggaran Rp27,4 miliar, terdiri dari 10 SMA senilai Rp8,6 miliar dan 9 SMK sebesar Rp19,33 miliar.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebut program ini bagian dari langkah berkelanjutan Pemprov Jatim untuk memastikan pemerataan fasilitas pendidikan, termasuk pada tahun anggaran berikutnya dengan pendekatan efisiensi.
“Dukungan Ibu Gubernur membuat kami optimistis pendidikan Jawa Timur terus berkembang dan melahirkan generasi unggul, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” katanya.
Bentuk pekerjaan dalam program ini meliputi rehabilitasi ruang kelas, laboratorium komputer dan IPA, ruang administrasi, perpustakaan, toilet dan sanitasi, hingga pembangunan ruang kelas baru.
Untuk SMK, penguatan sarana praktik menjadi prioritas, terutama pada jurusan teknik kendaraan ringan, teknik sepeda motor, agribisnis tanaman pangan dan hortikultura, desain komunikasi visual, serta bisnis digital.
Khofifah menekankan bahwa peningkatan fasilitas, khususnya di SMK, harus relevan dengan kebutuhan dunia industri agar lulusan memiliki kompetensi yang siap pakai.
“Ilmu adalah pintu pembuka kemajuan. Fasilitas yang memadai akan memperkuat proses pembelajaran dan meningkatkan daya saing siswa,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyinggung persoalan kebersihan toilet sekolah yang kerap dianggap sepele. Ia menilai sanitasi merupakan bagian penting dari lingkungan belajar yang sehat.
Menurutnya, perhatian terhadap kebersihan toilet menjadi salah satu pesan yang juga ditekankan dalam berbagai forum nasional. Ia bahkan meminta jajaran Dinas Pendidikan mencari sekolah yang dapat dijadikan role model dalam pengelolaan sanitasi yang baik.
“Ini perlu kebersamaan kita. Kebersihan harus diikuti pemeliharaan yang konsisten,” ujarnya.
Pesan itu dinilai relevan dengan upaya membangun budaya hidup bersih dan sehat sejak bangku sekolah, sekaligus mendukung pembentukan karakter siswa.
Selain pembangunan fisik, Lamongan dan Gresik juga menjalankan Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP). Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 75 sekolah, terdiri dari 60 sekolah di Gresik dan 15 sekolah di Lamongan.
Melalui SIKAP, sekolah didorong mengembangkan pembelajaran berbasis praktik ketahanan pangan, seperti budidaya cabai, tomat, terong, mentimun, kangkung, jambu, pepaya, pisang, hingga jagung dan ketela. Beberapa sekolah juga mengembangkan peternakan dan perikanan.
Khofifah menyebut program ini sebagai pendekatan kontekstual yang terintegrasi dengan mata pelajaran dan kegiatan outing class.
“Sekolah bukan sekadar tempat belajar akademik, tetapi ruang pembelajaran kemandirian dan ketahanan pangan,” katanya.
Bupati Lamongan, Yuhronur Effendi, menyambut baik program revitalisasi tersebut. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan, baik dari sisi sarana maupun mutu pembelajaran.
Ia menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lamongan telah mencapai 76,8, berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur. Salah satu strategi yang dijalankan adalah program beasiswa Perintis, yang telah membiayai pendidikan sekitar 8.000 anak dari jenjang SD hingga perguruan tinggi.
“Kami berprinsip tidak boleh ada anak Lamongan yang tidak sekolah,” ujar Yuhronur.
Usai peresmian, Khofifah bersama Bupati Lamongan dan Kepala Dinas Pendidikan menyerahkan bantuan sembako kepada 15 petugas kebersihan dan keamanan sekolah. Selain itu, 20 siswa prasejahtera menerima bantuan pendidikan masing-masing Rp1 juta beserta sepatu sekolah.
Gubernur juga menandatangani poster motivasi bagi siswa dan guru serta menyerahkan Al-Qur’an kepada jajaran Forkopimda Lamongan sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual dalam pembangunan pendidikan.
Program revitalisasi ini menjadi bagian dari strategi besar Pemprov Jatim dalam memperkuat kualitas pendidikan menengah, sekaligus menjawab kebutuhan fasilitas yang layak dan merata.
Dengan total investasi hampir Rp70 miliar di dua kabupaten, pemerintah berharap dampaknya tidak hanya pada kenyamanan belajar, tetapi juga peningkatan kualitas lulusan dan daya saing daerah.
“Kita ingin setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar berdampak pada kualitas pendidikan anak-anak Jawa Timur,” pungkas Khofifah.
