Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) resmi membuka Bimbingan Teknis Program JATIM PUSPA PLUS 2026 Angkatan I di Kota Batu, Senin (13/4/2026). Acara ini menjadi momentum krusial dalam menyelaraskan strategi pembangunan desa dengan tantangan ekonomi global yang semakin kompleks. Kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan komitmen Pemerintah Desa selaku pengelola Program Jawa Timur Pemberdayaan Usaha Perempuan (Jatim Puspa Plus).
Bimtek Jatim Puspa Plus 2026 diikuti oleh unsur DPMD, Pendamping Kabupaten, Pemerintah Kecamatan, Sekretaris Desa, Bendahara Desa dan Pendamping Desa lokasi Program Jatim Puspa Plus Tahun 2026 serta dibuka oleh Kadis PMD Provinsi Jawa Timur, Ir. Budi Sarwoto, M.M.
Dalam sambutan yang disampaikan oleh Kepala DPMD Provinsi Jawa Timur, ditekankan bahwa tahun 2026 menjadi tahun transformasi dalam pengelolaan keuangan daerah. Dinamika perubahan dalam menghadapi tantangan rasionalisasi Dana Desa dan penyesuaian Transfer ke Daerah (TKD), maka Jawa Timur mengusung tema besar "Creative Financing and Value for Money"
” Dengan adanya konsep Creative Financing, maka kita perlu melakukan penyesuaian sebagai respon perubahan fundamental pada pola pikir birokrasi dengan efisiensi maksimal. Dimana Setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan harus memberikan nilai manfaat (value) yang nyata, efisien, dan tepat sasaran bagi masyarakat” pesan Kadis DPMD Jawa Timur.
Disampaikan juga bahwa melalui konsep tersebut dapat mendorong penggalian alternatif pembiayaan yang sah dan akuntabel guna mengatasi keterbatasan fiskal agar berorientasi pada hasil. Sehingga secara tidak langsung akan menggeser paradigma dari sekadar ”menghabiskan anggaran" (spending) menjadi "menghasilkan untuk membiayai" (earning to spending).
Sebagai implementasi nyata dari semangat tersebut, Program JATIM PUSPA PLUS 2026 merupakan stimulus berjejaring dirancang untuk menjangkau 2.328 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di 50 desa yang tersebar di 22 kabupaten. Total Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang digelontorkan mencapai Rp 7.905.700.000,-. Alih-alih memberikan bantuan konsumtif, program ini memberikan stimulan modal usaha berupa barang produktif senilai Rp 3.000.000,-. Dengan bantuan ini diharapkan dapat mendorong motivasi berwirausaha dan kemampuan bertahan hidup KPM, menciptakan konektivitas antara Usaha KPM dengan pelaku usaha ekonomi desa secara berkelanjutan hingga menjaga Ketahanan Pangan di tingkat rumah tangga
Strategi ini merupakan bagian dari visi besar Asta Cita ke-6, yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi. Dengan capaian 4.716 desa mandiri pada tahun 2025—tertinggi secara nasional—Jawa Timur optimis bahwa sinergi antara inovasi finansial dan pemberdayaan masyarakat akan terus menekan angka kemiskinan yang saat ini telah berada di angka 9,30%.
"Program ini adalah amanah. Saya minta seluruh pihak mengawal pelaksanaannya agar tetap akuntabel sesuai dengan aturan yang berlaku," tegas Ir. Budi Sarwoto dalam penutupnya
