Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai mengarahkan pembangunan desa dari sekadar penyerapan anggaran menuju kemandirian ekonomi melalui prinsip Creative Financing.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jatim, Budi Sarwoto, dalam pembukaan Orientasi Program Desa Berdaya 2026 di Sidoarjo.
“Kita harus mengubah pola pikir, dari sekadar menghabiskan anggaran menjadi mampu menghasilkan pendapatan melalui Creative Financing,” ujarnya.
Ia menyebut, strategi ini terbukti mampu menurunkan angka kemiskinan di Jatim menjadi 9,30 persen pada September 2025, sekaligus mempertahankan posisi Jawa Timur sebagai provinsi dengan Desa Mandiri terbanyak di Indonesia, yaitu 4.716 desa.
Untuk memperkuat program tersebut, Desa Berdaya 2026 dirancang sebagai stimulus melalui strategi SPEDA MATIK (Branding Potensi Ekonomi Desa Menuju Desa Tematik). Program ini mendorong lahirnya ikon ekonomi kreatif di tiap desa yang akan dikelola oleh BUM Desa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADesa) secara berkelanjutan.
“Program ini adalah amanah yang harus dikawal ketat mulai dari perencanaan hingga pertanggungjawaban administratif dan publik. Saya minta peserta aktif berdiskusi agar implementasi bantuan keuangan khusus ini berjalan lancar dan berdampak nyata bagi penguatan ekonomi desa,” tegasnya.
Kegiatan orientasi Angkatan I ini diikuti 109 peserta dari 13 kabupaten, mulai dari Bojonegoro, Jember, Malang, hingga Sumenep. Peserta yang terdiri dari Dinas PMD, camat, hingga kepala desa dibekali materi pengembangan desa tematik berbasis inovasi.
Sebagai penutup, peserta mengikuti simulasi aplikasi E-Monitoring Kinerja (E-MKP) untuk memastikan seluruh proses, dari identifikasi potensi hingga realisasi program, dapat dipantau secara transparan dan akuntabel, sehingga konsep Creative Financing benar-benar berjalan dan dapat dipertanggungjawabkan ke publik.
